Tentang Menonton Dorama

Sunday, April 4, 2021


Terinspirasi gara-gara Mba Hicha bahas soal JDorama (drama Jepang) vs Drakor (drama Korea), jadi pengin cerita juga soal perdoramaan ini. Btw aku suka banget baca analisisnya Mba Hicha soal dorama dan drakor ini, bacanya jadi berasa punya temen seperjuangan yang samaan suka dorama di tengah maraknya drakor.

Kenapa kok lebay banget segala pakai istilah temen seperjuangan? Soalnya di jaman canggih seperti sekarang ini, akses buat nonton dorama (yang legal) tuh masih aja super terbatas. Yang enggak legal pun, harus nunggu cukup lama kalau mau nonton yang udah lengkap sama subtitle. Penggemar dorama berasa jadi minoritas kalau dibandingin sama penggemar drakor atau serial barat.

Cuma yaa karena pengetahuanku akan drakor amat sangat cetek (terakhir nonton drakor sampai tamat tuh Sky Castle tahun 2019 wk), jadi kayaknya bakal terkesan sotoy banget dan enggak fair yaa kalau aku membandingkan keduanya ini, jadi aku mau cerita-cerita aja deh, kenapa aku lebih menikmati nonton dorama ketimbang drakor.

Yang mana, aku udah nonton dorama sejak belum ngerti itu doramanya bahas apaan wkwkwk. Ternyata sejak kecil aku udah terpapar Jejepangan alias udah wibu sejak dini 😱


 My History With Dorama 

Agak sulit mengingat awal perkenalanku sama dorama tuh dari tahun berapa, tapi kayaknya sejak jamannya Oshin? Walaupun kalau ditanya ceritanya Oshin kayak gimana yaa enggak inget wkwkwk.

Yang aku inget, masa-masa SD dan SMP-ku diwarnai oleh dorama. Judul-judul yang aku inget kayak Anchor Woman, Tokyo Love Story, Long Vacation, Beach Boys, Great Teacher Onizuka, Rindu-rindu Aizawa, Itazura Na Kiss, Love Generation, Beautiful Life, Strawberry on The Shortcake... apa lagi yaa?

Dari judul-judul itu yang aku hapal ceritanya palingan Long Vacation, Beach Boys, Great Teacher Onizuka dan Itazura Na Kiss karena pernah beberapa kali re-watch karena memang suka. Kalau kasusnya Itazura Na Kiss, aku baca manganya juga dan sempat ada versi barunya sekitar tahun 2013 gitu yaa? Terus dia juga udah diadaptasi ke drama Korea juga, nonton versi ini tapi enggak sampai habis hahaha.

Kalau Rindu-rindu Aizawa yang aku inget cuma ceritanya sediiih banget, setiap episode diajakin nangis. Dan ini terulang di One Litre Of Tears wkwkwk. Di saat temen-temenku nangis kejer nonton Endless Love, aku lebih kejer nonton One Litre Of Tears.

Terus ada yang inget enggak sih, jaman dulu tuh, 90an akhir sampai 2000an awal kayaknya jadi masa kejayaan dorama di Indonesia. Hampir setiap hari dan setiap stasiun TV nayangin dorama. Yang paling banyak nayangin sih, stasiun TV ikan terbang yaa?

Jaman itu tuh, dorama yang ditayangin di TV di-dubbing sampai ke soundtrack-soundtrack-nya lho! Dan kayak enggak ada yang masalahin aja gitu, asik-asik aja. Jadi inget beberapa waktu lalu sempat ngakakin orang-orang yang protes soal anime yang di-dubbing di salah satu stasiun TV πŸ˜‚

Masuk pertengahan 2000an alias jamannya aku SMA, udah hampir enggak pernah nemu ada dorama ditayangin di stasiun TV kayaknya. Jaman itu populernya drama Taiwan (hello Meteor Garden, hello MVP Lovers πŸ™‹πŸ»‍♀️ wkwk) dan mulai-mulainya drakor masuk juga jadi pilihan, kayak Full House atau Stairway To Heaven.

Dan tentu di jaman ini, jaman belum kenal download-an, aku ngikutin arus aja nontonnya yang lagi dihebohin temen-temenku. Nontonnya kalau enggak drama Taiwan yaa drama Korea.

Baru deh, pas masuk kuliah, terpapar lagi sama Jejepangan wkwkwk. Kebetulan ada teman kost yang suka download dorama dan film Jepang waktu itu jadi dapet asupan dari sana.

Kembalinya aku ke dorama dimulai dari Hana Yori Dango atau Boys Over Flower (yep, ini versi Jepangnya Meteor Garden dan Boys Before Flower), yang tayang tahun 2005. Sedih banget sih, karena dibandingkan 'dua saudaranya' tadi, Hana Yori Dango ini kayak lebih sering dilupakan.

Kayak banyak temenku yang pada nonton Meteor Garden dan Boys Before Flower, tapi enggak nonton Hana Yori Dango. Padahal menurutku versi ini yang paling bagus dan ceritanya paling mirip materi aslinya alias manganya.

Dan dibandingkan Dao Ming Si dan Gu Junpyo, menurutku Domyouji Tsukasa itu jauh lebih adorable. Whiny dan bossy-nya dia, ngeselin-ngeselinnya, juga sisi cute-nya lebih ada di Domyouji Tsukasa. All hail Matsumoto Jun pokoknya wkwkwk.

Juga, tolong dicatat Hanazawa Rui (Hua Zhe Lei atau siapa versi Koreanya lupa wkwk) adalah titik di mana aku jatuh cinta sama Oguri Shun! Dari jaman dia masih muda belia sampai sekarang udah jadi bapak anak 3 huhuhu 😭

look how adorable they are!! πŸ₯Ί

Mumpung bahas Oguri Shun, enggak afdhol kayaknya kalau enggak bahas Hanazakari No Kimitachi E alias HanaKimi, dorama favoritku sepanjang masa yang ada kayaknya puluhan kali aku re-watch πŸ˜†

Ini dorama sebenernya agak meleset dari materi manganya, tapi sumpah ini dorama paling menghibur yang pernah ada! Kocaknya tuh yang beneran kocak, setiap episode, enggak ding, setiap adegan semuanya bikin ngakak! Ada sih bagian-bagian sedihnya (terutama di ending), tapi 89,99% dorama ini adalah komedi.

Karakternya kagak ada yang waras, sableng semua! Even Sano Izumi (karakternya Ogurin) yang di awal kelihatan cool bak pangeran, lama-lama kelihatan gesreknya juga astaga pusing banget! Apalagi second lead kesayangan para penggemar dorama, Nakatsu Shuichi (Ikuta Toma) si ganteng yang luar biasa gesrek sedari awal muncul wkwkwk.

Sulit buat lupa sama adegan Nakatsu joget-joget dengan celana dalam bertengger di kepalanya, atau adegan Oscar kesurupan hantu perempuan, atau klub karate yang jargonnya "BABY!" wkwkwk... apalagi the legendary Hibari Four ya ampuuun Mba Kiritani Mirei masih culun πŸ™ˆ

Kalau yang enggak familiar sama dorama, mungkin pernah tahu dulu ada sinetron Indonesia yang ceritanya murid perempuan nyusup ke sekolahan khusus laki-laki dan tentu saja dia nyamar jadi laki-laki? Nah itu adaptasi (enggak tahu official apa enggak) dari HanaKimi.

HanaKimi alias Ikemen Paradise, bahkan Horikita Maki pun ganteng di sini wkwk

Selain Hana Yori Dango dan HanaKimi, dorama-dorama populer jaman ini adalah Gokusen, My Boss My Hero, One Little of Tears, Nobuta wo Produce, Nodame Cantabile, Tokyo Dogs dan banyak lah yang lain, pokoknya jaman-jamannya dorama tuh dihiasi sama mukanya Oguri Shun, Ikuta Toma, Yamashita Tomohisa, Nishikido Ryo, Tamaki Hiroshi jaman-jaman masih muda belia wkwkwk.


 Why I Choose Dorama 

Pertanyaan ini sih, murni yaa jawabannya karena selera. Tiap orang pasti punya pandangannya masing-masing. Dan kalau aku mau bandingin ke drakor, sebenernya aku jarang banget bisa nonton drakor sampai tamat heuheu. Mungkin aku bakal bahas aja kelebihan-kelebihan dorama menurut aku yaa?

Perlu digarisbawahi, menurut aku. Jadi kalau ada yang enggak sependapat, balik lagi ke kalimat sebelumnya, MENURUT AKU wkwkwk.

Alasan-alasan kenapa aku lebih suka nonton dorama:
  • Cerita yang sederhana tapi heartwarming. Menurut aku, dorama tuh jarang yang ceritanya penuh konflik ribet (kecuali kalau genrenya crime/mystery yaa). Tapi rata-rata ceritanya menyentuh dan bikin hati hangat. Jadi inget waktu temen-temenku pada heboh sama drakor Reply 1988, di mana menurut mereka spesial karena beda dari drakor kebanyakan. Sementara pas aku cobain nonton, aku merasa itu biasa aja karena tema kayak gini yaa banyak di dorama.

  • Tema ceritanya sangat beragam dan kadang enggak biasa. Kayak misalnya di My Boss My Hero (2006), di mana ada yakuza yang kembali ke SMA sebagai syarat buat mewarisi kedudukan sebagai ketua. Atau Dele (2018) yang menceritakan programmer yang membuka jasa menghapus data milik orang-orang yang sudah meninggal. Ada juga Border (2014) walaupun banyak dorama genre crime, tapi ini agak unik karena detektifnya dibantuin sama hantu para korban wkwk. Atau ada juga medical drama tapi fokusnya ke dokter kandungan, kayak Kounodori (2015).

  • Natural dan apa adanya wkwk. Buat poin yang ini aku agak membandingkan sama drakor enggak apa-apa yaa? Aku suka dorama karena para pemainnya bener-bener terlihat seperti bagaimana harusnya dia terlihat. Misal kayak karakternya Ogurin di Binbo Danshi (2008), di mana dia berperan sebagai cowok kere banyak hutang, di situ dia bener-bener kelihatan kere. Kayak bajunya yang jarang ganti, nelepon harus ke telepon umum karena enggak punya hape, dan penampilannya lusuh. Beda sama karakter di drakor yang kayaknya harus tetap memenuhi standar masyarakat. Mau kaya atau miskin, make-up dan rambut tetap paripurna, bajunya kelihatan kinclong dan selalu ganti. Dalam poin ini, dorama menang banyak buat aku yang suka merhatiin detail-detail sekecil muka jerawatannya si karakter natural apa enggak wkwkwk.

  • Enggak perlu ada ribut-ribut drama second lead. Lagi-lagi poin ini terpaksa membandingkan sama drakor lagi wkwkwk (mau lo apa sih Eyaaa tadi katanya enggak mau sotoy banding-bandingin *dilempar ke jurang). Yang paling aku bosenin dari drakor adalah keberadaan si pemeran cowok kedua (populernya disebut second lead) yang karakternya tuh selalu sediiih, merana, padahal dia yang lebih baik dibandingkan karakter cowok utama yang kebanyakan menyebalkan (again, MENURUT AKU). Sementara di dorama, even yang tema utamanya romance tuh jarang ada beginian. Seenggaknya karakter cowok utama punya value lain selain ngotot pengin dapetin si cewek tapi dengan tingkah semau-guenya (tapi yang begini cuma Domyouji enggak sih?). Ada kejadian di dorama Boku, Unmei no Hito Desu ( 2017) di mana si cowok kedua malah jadi mendukung cowok pemeran utama setelah ditolak sama si cewek. Kayak gini kan adem yaa nontonnya wkwkwk.

  • Jumlah episodenya pas alias enggak bikin mumet dan berdedikasi tinggi buat ngabisin satu judul doang, karena paling banyak juga cuma 12 episode. Dan durasinya juga palingan 45-50 menitan. Mungkin ini salah satu alasan aku sering enggak kuat namatin drakor jaman sekarang, karena jumlah episodenya banyak dan durasi satu episode bisa 1,5 jam sendiri kayaknya. Padahal jaman-jaman Full House dulu kayaknya jumlah episode dan durasi masih oke-oke aja deh, 16 episode dengan durasi 50 menitan.


  • Less cheesy. Aku tuh suka "hadeeeh apaan dah" kalau lihat ada adegan romance yang super cheesy, semisal tatap-tatapan lamaaa banget, atau adegan cewek mau jatuh ditahan sama cowoknya, atau mau ciuman aja pakai slow motion segala! Yang ada pengin aku toyor kepala dua-duanya biar langsung sosor aja wkwkwk. Kalau di shojo manga atau anime kayaknya masih bisa diterima sih, tapi kalau udah diperanin sama makhluk nyata, kesel rasanya hahaha. Nah, untungnya hal-hal kayak gini tuh jarang ada di dorama (kecuali kalau memang diambil plek ketiplek dari shojo manga yaa). Bahkan kadang enggak perlu risih kalau nonton bareng teman atau orang tua, karena adegan ciuman paling sekedar 'cup' aja gitu enggak gerak sana-sini wkwkwk. Tapi dorama yang super cheesy yaa ada juga, dan tetep aku enggak suka. Contohnya Koi wa Tsuzuku yo Dokomademo (2020), mau sesuka apa ke Sato Takeru juga tetep kagak sangguuup nontonnya wkwkwk apalagi karakternya dia ngeselin banget di sana zzzzzz.

  • Karakter yang mikirin passion dan enggak melulu mikirin cinta. Ini niih, yang aku suka banget dari dorama. Karakter-karakternya banyak yang ditulis sangat passionate sama apa yang mereka kerjakan dan enggak terganggu dengan masalah percintaan. Mungkin karena orang Jepang banyak yang lebih mikirin hidup buat kerja daripada berhubungan dengan orang lain kali yaa? Jadi cerita-cerita yang memang fokusnya ke karir, enggak dipaksa ada adegan romance atau karakternya harus punya love interest. Atau paling naksir-naksir kecil doang kayak Kubota Masataka ke Ishihara Satomi di Unnatural (2018). Di Unnatural pun karakternya Ishihara Satomi ketika dihadapkan harus milih antara pekerjaan atau pacarnya (yang nyuruh milih pacarnya sendiri, pengin gue selengkat), dia akhirnya yaa milih kerjaannya lah gile aja lu hahaha!

  • Karakter perempuan yang kuat dan enggak bergantung sama orang lain. Ini juga termasuk poin plus-plus-plus dari dorama di mana banyak karakter perempuannya ditulis dengan sangat bagus. Kuat, mandiri, percaya diri dan enggak harus bergantung sama cowok buat jadi karakter yang bagus. Bahkan enggak jarang juga karakter perempuan di dorama tuh lebih cerdas dan lebih hebat dari karakter cowok-cowoknya. Salah satu contohnya baru nonton bulan lalu, Adachi Momoko (Arimura Kasumi) dari dorama Our Sister's Soulmate (2020). Bahkan di situ Momoko yang mendukung si karakter cowoknya untuk bisa melawan trauma masa lalu yang menghantui.

Gitu kali yaaa kira-kira kelebihan dorama di mataku. Aku enggak masukin poin ke-good-looking-an aktor-aktrisnya, karena yaa mau drama Jepang, Korea, Taiwan atau British dan Amerika pun yaa pasti ada standar good looking-nya sendiri kayak gimana. Dan seleraku soal ganteng-cantik itu cukup random sih, dari segala ras juga ada aja yang menarik perhatianku.

Tapi pernah dong, ada temenku yang komen kalau dia males nonton dorama karena cowok-cowoknya enggak operasi plastik. Nggg excuse me, maksudnya gimana Mba?

Gini deh yaa, pertama, enggak semua aktor Korea ganteng karena operasi plastik. Ada juga yang memang udah bawaan dari lahir. Kedua, maksudnya situ aktor Jepang kagak ada yang ganteng apa gimana dah? Mon maap, sini yuk kenalan sama Ikuta Toma atau Mackenyu, enggak kalah ganteng dibanding Song Joongki atau Choi Siwon wkwkwk. Atau yang senior, macam Takizawa Hideaki sampai Kimura Takuya? Menang tipis laah dibanding Hyun Bin *dibakar massa*

Bahkan buat aku yang ngebiasin Siwon, Takizawa Hideaki masih lebih cakep sih wkwk. Sayangnya Mas Tackey udah full terjun ke balik layar siih, sad but it good for him tho πŸ˜”


 Where To Watch Dorama? 

Di mana sih, kalau mau nonton dorama?

Kayak yang aku sebut di atas tadi, akses buat nonton dorama tuh belum sebanyak drakor. Mungkin karena dorama memang enggak sepopuler drakor kali yaa buat masyarakat di luar Jepang?

Ada sih katalog dorama di Netflix, Viu, Amazon Prime gitu-gitu tapi masih terbatas banget. Dan kebanyakan dorama-dorama lama yang masuk streaming service mainstream gini. Kalau kayak Crunchyroll gitu harus pakai VPN buat bisa akses judul-judul yang lebih beragam. Capek yaa, kenapa Jepang ini kadang suka sok eksklusif wkwkwk.

Tapi beberapa waktu lalu, aku sempat lihat akun Twitter WeTV nanyain dorama-dorama populer, siapa tahu mereka bisa usahakan tayang. Seneng banget sih, bacanyaaa dan yang request pun lumayan banyak. Please lah, ada satuuu aja streaming service yang katalog doramanya lebih banyak atau minimal setara lah sama drakor wkwkwk.

Dan berhubung Alice in Borderland (2020) kemarin kayaknya sukses besar, bahkan banyak yang biasanya enggak nonton dorama pun pada nonton, dan dengan munculnya Our Sister's Soulmate juga di Netflix, aku cukup optimis sih katalog dorama akan bertambah secara berkala di Netflix juga.

keluarga Adachi dari Our Sister's Soulmate | enggak tahu pengin aja naruh gambarnya di sini wk


 Most Favorite Doramas 

Hah waduh, udah panjang banget iniii wkwkwk curiga udah pada kabur pasti baca ocehanku ngalor-ngidul sepanjang gambreng! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Oke deh, biar enggak makin kepanjangan, aku bakal segera sudahi ocehan ini haha. Tapi sebelumnya, ada yang penasaran enggak sih, dorama favorit aku sepanjang masa apa aja?

Well, enggak ada yang penasaran pun, aku bakal tetap ngasih tahu siih wkwkwk. Jadi karena milih 5 itu susah, dan 10 kayaknya kebanyakan, jadi aku ambil 7 deh, buat dorama favorit sepanjang masa.


Kebaca enggak sih, judulnya apa aja? Wkwkwk disebut lagi deh! Hanazakari No Kimitachi E (2007), Gokusen (2002-2008), Nobuta wo Produce (2005), Rich Man Poor Woman (2012), Ouroboros (2015), Unnatural (2017), Midnight Diner 2009-2019).

Ada masa-masanya memang aku suka banget sama dorama tentang school life, memang aku paling suka sama tema persahabatan sih, apalagi kalau ada bromance-nya wkwkwk. Kalau cerita school life jaman sekarang yang bagus apa yaa hmm mungkin Mr. Hiragi's Homeroom. Aku juga suka dorama genre crime/mystery, banyak banget nonton genre ini dan rata-rata semuanya bikin puas karena kasus-kasus yang dibahas cukup beragam.

Dari tujuh judul ini, yang ada di streaming service legal (yang aku tahu) cuma Midnight Diner di Netflix. Lainnya enggak tahu bisa ditemuin di mana.

πŸ€

Hmmm how should I end this post btw? πŸ˜‚πŸ˜‚

Kalau ditanya, sebagai penggemar dorama, masih bisa enggak sih, nonton drakor? Kayak yang aku sebut sedikit-sedikit aja di atas, bisa-bisa aja kok. Aku tipe penonton segala genre dari negara apa aja, asalkan cocok sama ceritanya. Kebetulan memang drakor yang bisa aku tamatin enggak cukup banyak, masalah preferensi aja sih.

Sebagai penggemar dorama gini, aku juga punya drakor favorit kok, kayak You're Beautiful dan Revolutionary Love dan dua-duanya jarang dipedulikan malah sama fans drakor hahaha.

Oke deeh, jadi begitulah cerita-ceritaku soal dorama di minggu siang ini wkwkwk. Yang aku tulis di sini semua murni dari pandangan aku pribadi yaa. Enggak ada niat buat bilang dorama itu superior atau selera aku beda dari yang lain. Kalau mungkin ada beda sama pendapat temen-temen yang baca, that's okay siih kan tiap orang punya preferensi masing-masing 😊

eya.

20 comments

  1. Hadeuh hadeuh hadeuuuhhh tuhkan, daritadi baca pingin sambil komen, eh skrg giliran udh di bawah malah lupa lagi kan, selalu begitu deh si Awl🀣 pokoknya aku setujuuu banget sama kak Eya, walaupun bukan pecinta dorama pada awalnya. Tapi selama nonton dorama, poin-poin di atas tuh super lengkap untuk ngegambarin apa yg aku pikirin😁 Dimulai dari ceritanya yg jaaaauhhh lebih beragam daripada drakor (yaa lagi-lagi drakor wkwk, abis gimana ya bund, emg dua-duanya juga suka nonton jadi pasti sedikit banyaknya dibandingin, kayak sinetron indo yg juga sering dibandingin walaupun hasilnya udh otomatis jauh dari kedua drama di atas🀣). Aku tuh kadang sampe ada rasa gemas gitu lho kak, saking realistisnya cerita di dorama, kalau ada pasangan yg aku ship-in tuh gemes bangettt banget karena adegan mesra mereka kurang HAHAHAH. Efek kebanyakan nonton drakor kali ya.. terus mikir, "ni orang Jepang serius amat sih, sampe skinship dikit doang gak ada gituhh, padahal mereka cucok berdua", wkwkw. Tapi memang ini sih pentingnya, menurutku dorama bener-bener menggambarkan kehidupan realistis masyarakat Jepang yang memang workaholic, dan nggak into banget soal percintaan, dibuktikan sama angka kelahiran, dan jumlah pasangan yg menikah semakin kesini semakin menyusut kayak piramida terbalik. Dari ragam cerita pun, setujuuu, mereka saking beragamnya, kadang yaa suka out of the box, kayak drama tentang pembantu yg nggak bisa senyum dan bakalan ngikutin semua yang disuruh majikannya, even disuruh ngebunuh sekalipun (dan dibuat tetep misterius sampai akhir), dan masih banyak lg🀣 terus episodenya juga pas, cuma 12, walaupun kadang merasa kurang karena zuzur kalau mau 16 episode pun, pasti ditonton.

    So far dorama favoritku masih Good Doctor (dan lebih suka versi doramanya karena nggak kepanjangan), Kaseifu no Mita (ini tentang pembantu yg aku ceritain di atas in case kak Eya belum pernah dengar. ini jg pernah diadaptasi sama drakor tapi lupa judulnya, kalau gak salah yg main Choi Ji Woo. ofc dengan cerita yang lebih lebay dan "eksplisit"), terus Emperor's Cook (aaaak pertama kalinya ngefans sama Sato Takeru), IQ 246, Code Blue (favorite abizz😭), terus apa lagi yaa lupaπŸ˜† mwehehehe.

    By the way, aktor-aktor Jepang tuh gak kalah ganteng juga tauuuukkk, ingin pites deh yg ngejelek-jelekin mereka. Mungkin karena gaya rambutnya aja kali yaa, kalau Korean kan cenderung lebih pendek dan lebih maskulin, while aktor Jepang lebih banyak yg aut-autan kelihatannyaπŸ˜‚. Walaupun begitu, dijamin yg ngomong gitu bakal pingsan deh kalau dah liat aktor Jepang gayanya dimiripin sama aktor Korea *kalau memang preferensinya begitu. Eitherway, aku setuju dengan kak Eya kalau ganteng atau cantiknya seseorang tuh relatif dan masing-masing negara pasti punya ciri khasnya masing-masing. Kayaknya kak Eya harus sering-sering review dorama nih, aku yg minim info soal jejepangan biar bisa lebih terbuka wawasannyaπŸ€£πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaa mungkin lain kali dicatet dulu Awl biar ga lupa *ngerepotin banget* πŸ˜‚πŸ˜‚ Bingung juga sih, sebenernya ga pengin sengaja membandingkan, tapi orang-orang pun cenderung langsung bandingin sama drakor kalau ngomongin dorama, entah kenapa πŸ˜‚ Ya ampun kita sama banget Awwlll wkwkwk aku juga suka gemes sendiri kalau ngeship karakter di dorama, karena saking orang Jepang tuh tertutup dan awkward yaa soal percintaan gini, jadinya malah gemesin buat kita yang nonton ga siih? πŸ˜†

      Aku belum nonton Good Doctor niih, ada di Viu yaa kalo ga salah? Naah ini aku tadi mau nanya yang tentang pembantu, eh udah dijawab sekalian sama Awl ahaha makasih Awl rekomendasinyaa πŸ’– Ya ampun aku juga suka banget Code Blue, menurutku ini medical drama paling realistis deh, ngasih tau kita kalau para dokter tuh harus selalu terlihat tenang dan bisa diandalkan walaupun sebenernya mereka sendiri panik atau takut 😭 Tegang sendiri tiap nonton tuuuh 😭😭

      Iyaa menurutku juga gituu, gaya-gaya cowok Korea tuh biasa lebih kelihatan maskulin dengan rambut disisir rapi (apalagi kalo di drakor mah, beda sama idol Kpop yang kadang masih suka gondrong) sementara cowok-cowok Jepang kayaknya pada seadanya banget ngurus rambut wkwkwk eniwei karena aku pribadi suka lihat cowok gondrong, makanya aku lebih tertarik nonton dorama karena banyak cowok-cowok berambut gondrong, minimal sebatas bahu gitu πŸ˜‚πŸ˜‚

      Ahahahaa yang aku bingungin dari review dorama nih, kalau ditanya nontonnya di mana.. Soalnya ya ituu masih banyak yang ditonton dengan cara ga legal πŸ™ˆ

      Delete
  2. Aku masih awam banget kalo soal dorama kak, cuman aku masih fleksibel kalo urusan tontonan hahaha. Aku sudah tidak meragukan poin-poin yg disampaikan kak Eya diatas, karena udah nonton dorama sejak SD itu berarti udah lama banget dong kak ><

    Aku setuju banget soal cerita dorama yang sederhana tapi heartwarming!! Belom lagi aktingnya yang natural, terus aku suka terhibur sama dialek kansai nya orang Jepang kak wkwkkk.

    Oiya soal dorama, terakhir kali aku nonton Yukan club hahaha dorama lama ya kak. Lebih sering nonton filmnya sih dibanding doramanya, terus jadi kepengin rewatch salah satu film jepang favoritku kak, Crows Zero. Masih kak Eya tau film ini!! 😁.

    Anyway seperti biasa tulisan kak Eya soal jejepangan selalu asik dan informatif! Thank you kak udah sharing πŸ˜…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iyaa soalnya dulu dorama banyak ditayangin di tivi, jadinya dari kecil udah terpapar dorama deeh πŸ˜‚

      Ya ampun bener, dialek Kansai tuh kayaknya memang favorit orang-orang, kedengerannya memang jadi lebih lucu yaa? Kayaknya kalau di Indonesia tuh, dialek Kansai jatuhnya kayak logat Sunda, yang cuma denger ngomong aja udah lucu πŸ˜†

      Weeeh Yukan Club tuh aku baca manganya, tapi kayaknya aku ga nonton doramanya. Yang main Akanishi Jin ternyata, si ganteng mautnya Jepang wkwkwk. Tau bangeeeett kalau Crows Zero maah, film-filmnya Ogurin kayaknya ga pernah aku lewatin (kecuali yang baru-baru belum nonton wkwk). Dan ini legend banget, dulu temen-temen cowok abis nonton ini pada belagak jadi yakuza terus teriak-teriak manggil temennya ala-ala manggil Genjiiieeh gitu pake penekanan 'H' πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Waaah syukurlah kalau informatif hahaha makasih Rekaaa

      Delete
  3. Kyaaaa... *histeris ala shojo manga ��*

    Sungguh ku terharu karena ada temennya.

    Aku kok kelupaan ya sama Rindu-rindu Aizawa. Padahal dulu kayaknya suka banget. Meskipun kalau ditonton ulang, ternyata walau pemeran utamanya anak-anak, ceritanya masuk kategori 16+ kayaknya ��

    Dan aku juga paling suka Hana Yori Dango versi Jepang, karena peran utamanya cewenya paling lovely. Walaupun strong, tapi cute anak SMAnya dapet. Cuma kalau mau dibandingin sama komik, karakter2nya paling deket ke yang Taiwan sih IMO. Versi Jepang itu terlalu kawaii dan malah lebih comical dibandingkan komiknya sendiri yang rada vulgar dan abusive. ��

    Mudah2an akses dorama legal makin dipermudah, ya...
    Kalau bisa sekalian asadora kayak Oshin dulu juga ditayangin lagi. Asadora makin ke sini makin woman empowering banget menurutku. Mana cerita family dan friendship-nya sungguh menghangatkan. Dan ini juga yang bikin aku ngerasa Reply 1988 terasa biasa aja. Sampe kubikin juga jadi tulisan di blog. Wkwkwk.

    Anyway, ditunggu tulisan tentang doramanya lagi ya mba eya... atau kita collab aja sekalian kah? XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaaa jadi kangen baca shojo manga udah lamaaa πŸ˜‚

      Mba Hicha aku pun terharu nemu blognya Mba Hicha yang suka bahas dorama hiiks berasa ketemu temen seperjuangan 😭😭

      Iyaa Makino tuh lovely banget, manis dan anak SMA banget. Kalau di Meteor Garden karena di memang di age-up jadi anak kuliahan, jadi masih dimaklumi lah Sanchai terlihat dewasa wkwk. Memang sih, komiknya lebih vulgar dan abusive, aku sendiri juga kesel banget sama Domyouji versi komik wkwkwk.

      Nah iya niih aku paling jarang nonton Asadora, kalau bisa masuk streming service kayaknya bakal mempermudah bangeeet orang-orang buat lebih kenal sama dorama, mengingat kemarin Alice in Borderland sambutannya bagus banget πŸ˜„

      Waaahh boleh juga niiih ide collab-nya Mba Hichaaa πŸ˜† Ayok kapan-kapan kita collab ngobrolin dorama πŸ˜†

      Delete
  4. Eyaaaa.... i'm with you.

    walaupun sebetulnya menurutku Korea sama Jepang itu 11 12 tapi setelah baca dari view point-nya Eya, aku jadi iya iya aja terus sepanjang membaca, hahaha...

    Pada dasarnya aku ga terlalu suka nonton series yg panjang episodenya, sukanya nonton yang sekali tamat, tapi bukan berarti anti, soalnya agak sering juga nonton yg panjang-panjang, hehehe...

    Yang paling kuinget kalo ngomongin dorama sih pasti ke one litre of tears dulu karena itu pertama kalinya nonton drama yang bikin guee sebagai cowo gede tapi cirambay, suka ditahan sebetulnya tapi ga enak ke tenggorokan kalo nahan sedih tuh hahaha... gila tuh dorama, basah tuh mukaa...

    trus setuju juga soal cerita Dorama yang ringan, heartwarming, yang deket dengan keseharian kita, yang ga terlalu dramatis, dan ga melulu cinta kepada lawan jenis, ada jg yang soal solidaritas persahabatan seperti crows zero dan high & low, dan ga sedikit yang tentang passion sama pekerjaannya, itu sih mantep banget.

    dan kalo bicara yg action kayak crows zero atau high & low, jepang itu paling bisa bikin geregetan... yang kalo penjahatnya super menyebalkan dan si peran utamanya lambat jagonya, suka geregetan, hahaha.. tp akhirnya menang juga!

    Oia, yang sedih tapi aku ga tamat nontonnya karena ga sanggup lanjut adalah tokyo tower, soalnya tiap nonton itu jadinya inget sama mamahku :"(

    Nah ini penting jg, sinematografi dan fashion.
    kalo Eya belum ngeuh, sebetulnya influence terbesarku dalam fotografi itu adalah dari fotografer-fotografer jepang (meskipun ada yg yg dari daerah nordic) tapi Jepanglah yang selalu membuatku luluh kalo ngelihat fotografi, dimulai dari warna foto, matahari, salju, dan momen yang ditangkap. sempurna!
    Nah, ternyata banyak jg yg bawa sense fotografi yg Jepang banget itu ke gambar bergerak atau film.
    Dan fashion.. nah ini yang aku pengen tahu, soalnya udah lama ga nonton dorama yg kekinian jadi belum bisa menyimpulkan gaya fashion di Jepang sekarang seperti apa. Tapi kalo lihat dari youtuber jepang yg kuikuti, dari IG dan majalah jepang (yang diluar gaya unik harajuku ya) mantep-mantep sih.

    Eya, kasih aku masukan dong film jepang atau dorama yang 2018 ke atas yg bagus, aku baru catet yg our sister's soulmate nih, ada lagi gak? yang sekali tamat juga ga apa-apa banget... hehehe

    Terima kasih Eyaa, ditunggu blog post yg pembahasan dorama dari sisi fashionnya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha memang lebih ringkes sih yaa nonton yang langsung tamat, ga perlu berdedikasi namatin berepisode-episode πŸ˜‚

      Kayaknya ga ada yang ga nangis yaa nonton One Litre Of Tears iniii astaga parah banget sih, temenku sampe ngejokes One Galon of Tears katanya kalau dikumpulin air matanya selama nonton, ada kali segalon πŸ˜‚πŸ˜‚ Parah sampe sekarang pun belum ada yang ngalahin.

      Nah inii paling suka memang drama persahabatan ala Jepang. Mungkin budaya dari shonen/shojo manga kali yaa yang selalu nampilin kisah persahabatan yang manis dan penuh solidaritas. Aku sendiri biasanya lebih cirambay nonton yang temanya friendship dibanding romance πŸ˜‚

      Tokyo Tower ya ampuuun aku baru ingeet, pemain-pemainnya pada main di Midnight Diner! πŸ˜†

      Waaah aku cukup merasa siih, kalau lihat foto-fotonya Ady tuh ada sentuhan kayak still image yang diambil dari dorama/film Jepang gitu. Cuma ya itu, aku ga banyak tau soal fotografi ahaha... Thank you Ady udah kasih tau trivia ini 😍 Yes, aku juga suka fashionnya Jepang, mulai dari jaman 90an yang ramai dan ala-ala pin up girl gitu, sampai makin ke sini fashion orang Jepang rasanya makin minimalis (antara kulot dan outer panjang biasanya), dan yang aku suka sih, style orang Jepang itu kebanyakan unisex (untuk orang Jepangnya sendiri yaa) jadi enak aja ngeliat fashion cowoknya tuh lebih beragam 😊

      Hmmm apa yaah, mungkin bisa dicoba Unnatural, Crisis, Followers, Dele, Mr.Hiragi's Homeroom, Anone hmmm apa lagi yaa? Kalau suka action bisa cobain Alice in Borderland, atau Naked Director yang ceritanya cukup vulgar tapi oke banget temanya. Sama aku rekomendasiin banget Midnight Diner sih, walaupun ini dorama udah ada sejak 2009, tapi seri paling barunya dibuat tahun 2019, bisa ditonton buat nemenin santai banget πŸ˜†

      Kalau yang sekali tamat, cobain Shoplifters (ini sering dibandingin sama Parasite-nya Bong Joonho yang menang Oscar itu), Kids On The Slope, Our 30 Minute Sessions, Sunny (ini versi Jepangnya cukup beda sama versi Korea), 37 Seconds, Mother, wkwkwk banyak yaaa πŸ˜‚

      Sama-sama Adyy buat insight-nyaa! Mudah-mudahan nanti bisa bahas dorama dari sisi fashion πŸ˜†

      Delete
  5. Kak Eyaaa, ini pertanyaan serius apakah Kamen Rider dan Satria Baja Hitam termasuk Dorama? πŸ˜‚ Karena kayaknya cuma itu aja yang pernah aku tonton sama Alice tapi ini juga cuma bagian akhir aja, sisanya diceritain πŸ˜‚. Eh pernah deh nonton Death Note, ini satu-satunya series Jepang yang pernah aku nonton sampai habis karena aku suka ceritanya πŸ˜‚. Sisanya kayak Hana Yori Dango dan Hanakimi cuma sekedar tahu aja, nggak pernah nonton πŸ˜‚. Mungkin karena aksesnya agak susah zaman dulu, jadi aku lebih kebawa arus. That's why sekarang aku jadi lebih sering nonton drakor karena udah terbiasa dan lebih kenal sama muka-muka artisnya. Soalnya kalau nonton film yang artisnya aku nggak kenal, aku suka mager gitu πŸ˜‚ kecuali kalau ikut teman nobar, pasti jadi ikutan nonton juga hahaha.

    Nah, karena aku belum terbiasa sama dorama, jadi aku jarang banget nonton dorama, kalaupun nonton itu juga nggak sampai habis πŸ˜…. Tapi dari beberapa dorama yang pernah aku tonton sekilas kayak Naked Director sama Alice, memang kesan naturalnya juara banget. Dari segi make-up dan efek-efeknya, semua natural jadi kayak nonton tetangga lagi ngobrol atau kayak lagi lihat kejadian sehari-hari di sekitaran gitu wkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha kalau dari bentuknya mungkin bisa yaaa, tapi Kamen Rider dan Power Rangers (atau Super Sentai) itu ada klasifikasinya lagi Li, yaitu Tokusatsu. Jadi kayak serial-serial yang sejenis itu (termasuk Ultraman juga kayaknya) disebutnya Tokusatsu.

      Iya memang sebel banget nih akses dorama dari jaman dulu kok ya susah banget hahaha. Padahal cerita dari dorama tuh bagus-bagus, kayak yang Lia lihat dari Naked Director atau Alice in Borderland aja kaan? Padahal Alice juga genrenya action fantasy tapi masih kelihatan yaaa naturalnya πŸ˜†

      Delete
  6. Kalau nulis apa-apa tentang Korea sekarang emang wajib ditekankan "MENURUT AKU" HAHAHAHAHHAHAHA takut di-spill wekekekekekek.

    Anyway aku setuju dengan poin Kak Eya tentang penampilan paripurna aktor dan aktris drakor mau dalam keadaan apa pun dan di mana pun. Kayak kadang mikir...hey elo tidur tuh cantik banget yak nggak berantakan sama sekali wow di dunia nyata ya tidak mungkin seperti ini. Wkwk. Agak sebel kadang, tapi yaudah sih kalau mau nonton yang lebih realistis biasanya aku melipirnya ke film Korea. itu pun ada film yang masih kayak drakor tampilannya wkwk. Pinter-pintier milih film aja.

    Aku nggak familiar sama sekali dengan dorama Kak, Itazura na Kiss aja dulu cuma lihat cuplikannya di tv yang lari-lari terus kecium bibirnya kan. xD Terus poster cowok-cowok banyak itu ternyata dorama Hanakimi ya, aku dulu pernah dikasih tau temenku tentang poster itu tapi dia bahasnya dalam topik "cowok yang ganteng banget sampe kelihatannya malah jadi jelek" xD random nggak tuh. Cowok yang dimaksud adalah yang bawah sendiri yang kelihatan kayak bule.

    You're Beautiful itu yang Jang Geunsuk, Lee Hongki, Park Shinhye, sama Jung Yonghwa gak sih? HAHAHAHAH aku pernah nonton drama itu episode pertamanya, dan langsung...capek xD Soalnya kayak penuh gitu rasanya satu episode kejadiannya udah buanyaaaak banget. Nonton drakor juga pilih-pilih sekarang, sejak 2014 aku udah nggak rutin lagi ngedrakor. Milih drakornya sekarang berdasarkan siapa yang main, kalau yang main salah satu member CNBLUE aka Yonghwa dkk, aku akan nonton. Kalau enggak, ya nggak nonton wakakakak mau sepopuler apa pun drama itu, mau sebanyak apa pun yang ngomongin, aku nggak akan nonton. Udah capek nonton drakor huhu. Sukanya dengerin podcast "ngedrakor!" aja udah cukup. xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Takut Endaaah sama dedek-dedek yang sukanya spill the tea spill the tea ituuu 😭

      Naaah beneeerr, kalau Korea aku prefer filmnya deh... Lebih realistis dan natural wkwkwk. Selama ini nonton film Korea jarang sih nemu yang gagal, kecuali yang memang dari posternya aja udah enggak menarik, itu sih udah enggak bakal ditonton juga. Aku jadi mikir, kenapa kalau di film mereka bisa natural tapi kalau di drama enggak bisa yaa? πŸ€”

      ((cowok yang ganteng banget sampe kelihatannya malah jadi jelek)) WKWKWKWK itu yang dimaksud Shirota Yuu doong??? HAHAHAHAHA tapi aku pas nonton HanaKimi juga lihat dia kayak agak aneh sih, karena mukanya terlalu bule kayaknya wkwk dia keturunan Spanish siih πŸ˜† Dan sampai sekarang mukanya masih sama kayak gitu, cuma rambutnya udah ga gitu jadi lebih less aneh kelihatannya wkwkwk.

      IYAAA BETUUULL WKWKWK itu kayaknya satu-satunya drakor yang aku tonton lebih dari dua kali deeh... Kocaknya tuh hampir sebanding sama HanaKimi walaupun dramanya lebih banyak. Eh dan temanya hampir sama, cewek yang nyamar jadi cowok wkwkwkwk.

      Yang bikin capek tuh kenapa sih drakor jaman sekarang panjang-panjang banget? Baik dari jumlah episode maupun durasi astagaaa capek bos! Dulu Full House gitu juga cuma 16 episode deeh kayaknya.

      Delete
  7. Ini yang komentar pada panjang2 amat yakk, kalau digabungin bisa kali jadi satu artikel.. jadi minder mau komen πŸ˜…πŸ˜… hahah

    Atuh, aku mah apa.. mau bilang tim drakor tapi yg ditonton itungannya sejari dua jari.. mau masuk tim dorama. Cuma ngeh alice in borderland aja. Itupun belum beres nontonnya. πŸ˜†πŸ˜†

    Btw kalau maruko sama doraemon masuk dorama juga nggk Mba Eya?? Wkwkw *pertanyaan retoris yg bikin semua orang mau teriak "BUKAN!! ITU ANIME NAMANYA BAY!!" *getok rame2.. wkwkwkw

    Tapi penjabaran Mba Eya disini jelas banget dan emnk ngegambarin kalau Mba Eya hatinya bertengger di dorama 😊..
    Tapi setuju ttg Jepang itu sok ekslusif banget. Soalnya aku kerja di perusahaan punya jepang yang apa2 selalu ribet.. aturannya hhhmmm sulit buat orang Indonesia kaya saya... wkwkw 🀣 salah dikit, mainnya dipanggil manajemen. -_-

    Nice post btw Mba Eya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. WKWKWK iya niih pada bikin essay kayaknya *ditimpuk* πŸ˜‚

      Mas Bayu buruan diberesin dong nonton Alice in Borderland-nyaaa wkwkwk diawet-awet sampai season 2 ada nih jangan-jangan?

      Maruko sama Doraemon mah masuknya anime dooong wkwkwk *nambahin tapi ga pake teriak* wkkwkwk dorama sih yang live action, kayaknya ada deh Chibi Maruko versi live action πŸ€” Aku malah kepikiran pertanyaannya Lia, Kamen Rider termasuk dorama apa enggak πŸ˜‚

      Hahahahaa bener-bener yaa bukan soal entertainment doang ternyata Jepang tuh yang sok eksklusif, bahkan di pekerjaan pun πŸ˜‚πŸ˜‚

      Delete
  8. dibanding K drama, dorama bener mbak lebih simpel
    meski ya pemainnya engga seganteng atau secaning K drama

    aku suka dorama pas SMA gara gara guru bahasa jepang aku suka muter battle royal yang banyak adegan bunuh bunuhan itu
    tapi kemudian malah ngikutin shokodo sheira aka litte princess
    etapi detective conan yang live action juga seru si meski bisa ketebak dari gerak gerik pemainnya

    sayang aku lama ga liat karena engga ada rekomendasi dan belum ada yang sehype drakor di sini
    seoalnya aku klo liat drama dan film ya ikut yang lagi tren aja ahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astagaa ga diprotes sama kepala sekolah itu Mas Ikrom, gurunya muterin Battle Royale wkwkwk... Battle Royale itu btw inspirasi dari Hunger Games lho, tapi ya itu karena ga se-booming itu, jadi kalah pamornya πŸ˜”

      Detective Conan live action aku nonton awal-awal doang, karena pemainnya siih favorit aku hahaha. Setelahnya ga pernah nonton lagi, malah pas itu belum ada Conan masih Shinichi Kudo wkwkwk.

      Nah ituu... Tapi kayaknya streaming service mulai mau merambah dorama niih.. Barusan juga dapet info WeTV mau nayangin dorama πŸ˜† Semoga bisa hype jadi banyak yang nonton hehehehe

      Delete
  9. Lengkap banget bahasan perdoramaannya, sampai ke yang komen-komennya juga. hihihi...
    jadi nambah pengetahuan, aku soalnya nonton dua-duanya juga jarang. *sad*

    aku anaknya sinetron ikatan cinta *ditimpuk*, itupun baru sekarang nonton lagi. Tanggung sih mau udahan nonton tapi penasaran ntar endingnya gimana, akhirnya lanjooot :))

    Ngomong-ngomong soal dorama aku tahunya Oshin, Tokyo Love Story, itazurra na kiss, sama rindu-rindu Aizawa tapi ceritanya gimana kok udah lupa ya :))

    klo drakor paling ikut-ikutan yang lagi hype aja, orang nonton apa ikutan nonton apa. Sama kek Mas Ikrom aku tipe penonton ikut yang lagi tren aja, wkwkkw

    ReplyDelete
  10. Kalo disuruh piliha negara favorit liburan, aku pasti jawab Jepang. 1-1 nya negara yg aku rela bolak balik tiap 2 thn sekali.

    Tapi kalo ditanya acara tv ny, aku ttp LBH suka drakor hahahahahaha.

    Sbnrnya penilaianmu ga objektif juga sih mba. Krn aku blm banyak nonton dorama. Dan jujur blm ada 1 pun dorama yg selesai aku tonton. Cm nonton 1-2 eps, trus stop ga lanjut, Krn ga ketemu klik nya. Bisa jd aku salah nonton, milih judul yg memang ga menarik :D. Ntahlaaah.

    Tp judul yg aku tonton itu jalan ceritanya datar. Konflik ya gitu2 aja. Dan mungkin aku ga terlalu suka yg begitu kali yaaa. Kalo drakor memang complicated dan kdg lebay, sampe bikin aku ikutan emosi wkwkwkwkwkw. Yg nangis, kdg ikutan nangis. Yg jahat banget bikin pengen sumpah serapah. Itu jrg aku rasain pas nonton dorama :D.

    Eh tapiiiii, again aku ga mau judge sembarangan dulu. Kayak ku bilang, aku baru nonton dikiiit itu jg ga sampe tamat. Jadi mungkjn aku mau coba nonton dorama yg kamu favoritin di atas mba. Kali aja kaaan aku bisa suka :D.

    Eh kalo ttg cowo mah, menurutku sih, pas ke Jepang cowo ganteng justru bertebaran di Jepang hahahahaha. Sampe petugas imigrasi pernah ketemu ganteng bangeeeeet. Something yg jarang aku temuin di Korsel :D. Jd kalo ada yg bilang co Jepang biasa aja, hmmmmm... Blm ketemu aslinya di sana kali :p

    ReplyDelete
  11. Kak Eya sudah pernah nonton dorama Doctor X? Itu lumayan menarik ceritanya ada juga di Netflix..

    ReplyDelete
  12. Dorama oh dorama. Dulu saya juga penggemar dorama. Begitu suka satu artis, itu saya cari semua doramanya. Pas suka Matsu Jun, saya tonton semua. Pas suka Haruma Miura pun demikian.

    Alasan suka dorama kurang lebih sama dengan di atas. Yang paling utama karena genrenya lebih beragam dan episodenya tidak terlalu banyak.

    Dari tujuh judul tersebut, lima dorama pertama saya tonton, sisanya tidak karena terlanjur pindah ke lain hati.

    Entah kenapa akhirnya saya beralih dari dorama ke drakor. Kemudian sekarang pindah ke drama china, wkwk.

    Meski begitu, jika disebutkan judul lama seperti hanakimi dan gokusen tentu tak lupa.

    Baca komentar di atas, jadi ingat doctor X. Dorama yang sampai sekarang masih saya pantengin setiap season nya.

    ReplyDelete