J-Corner Ep.3: Cerita Film di Bulan November

Wednesday, November 30, 2022


Yuhuuu tiba-tiba besok udah Desember 😱 dan bulan ini kembali ngepost blog buat kolab doang 😂

J-Corner kali ini, karena bulan ini aku dan Hicha sama-sama punya pengalaman nonton film Jepang di bioskop (aku di Jakarta dan Hicha di Jepang), jadiii kita mau bahas soal film Jepang, terutama yang kita tonton di bulan November kemarin 😄

Awal November tuh Japan Film Festival (JFF) diadain lagi secara offline setelah dua tahun terakhir cuma bisa berlangsung secara online karena pandemi.

Tentu sajaaa seneng banget bisa festivalan lagii, dan karena tahun ini udah tinggal di Jabodetabek (dan punya libur di hari Sabtu juga), pengalaman JFF-annya jadi jauuuh lebih menyenangkan! 🥺

Biasanya tuh aku palingan cuma nonton paling banyak dua film kalau offline (beda sama online bisa nonton lebih dari 10 film), karena Sabtunya masih masuk kerja jadi enggak bisa ngejar. Kemarin aku nonton total enam film!! Masing-masing Sabtu dan Minggu nonton tiga film.

Walaupun udahnya sempet meriang dan hampir enggak masuk kerja hari Seninnya 😂😂

Yang lebih seru lagiii… Aku bisa sekalian janjian sama temen-temen pejuang dorama/film Jepang juga yang biasanya cuma interaksi di Twitter! Biasanya beneran sendirian banget walaupun dulu temen kerja aku juga suka jejepangan, tapi enggak sampai minat digeret nonton film yang dia enggak tahu pemerannya siapa 😌

Daan tahun ini juga bisa ikutan berburu merchandise. Enggak banyak sih dapetnya, soalnya temenku ada yang nonton sejak Kamis dan dapat semua merchandisenya!! Gileee keren banget!! 👏👏👏

jadii aku dapet stickers, clearfile, pulpen dan lanyard 💖

Okee, cerita pengalaman festivalannya udah, sekarang saatnya bahas film yang ditonton!

Aku enggak bakal bahas keenam filmnya yaa karena kebanyakan hehe.. Aku pilih tiga yang paling berkesan buatku aja yaa 😄

Urutannya berdasarkan mana yang ditonton duluan.


And So The Batton is Passed★

Kita disuguhi dua cerita yang nantinya akan saling terhubung sepanjang film ini.

Pertama tentang Miitan (Inagaki Kurumi) yang cengeng dan mamanya, Rika (Ishihara Satomi) yang selalu ceria dan enggak pernah lupa dress up walaupun enggak punya uang buat makan malam 😂 Tapi si mama tetep punya berbagai macam cara buat nyenengin dan mewujudkan semua impian Miitan.

Kedua tentang Yuko-chan (Nagano Mei) yang hidup dengan ayah tirinya, Morimiya (Tanaka Kei), yang luar biasa baiiikk banget (dan jago masak) dan selalu mendukung Yuko-chan dalam hal apapun. Walaupun Yuko-chan enggak manggil Morimiya dengan sebutan 'ayah' tapi bonding mereka sebagai ayah dan anak tuh kerasa banget.

Sepanjang nonton ini tuh disuguhin hal-hal lucu yang enggak jarang sampai bikin ngakak. Tapi mendekati ending dibikin mewek setelah satu-persatu background karakter diungkap, dengan twist yang sangat smooth sampai bikin berkomentar "lhoo maksudnya tuh gitu" wkwkwk.

Asli aku baper parah nontonnya 😭😭

Yang paling aku suka tuh waktu Yuko-chan dan pacarnya, Hayase (Mizukami Koshi) mencari restu supaya mereka bisa nikah, asli gemes dan ngakak tapi juga kasihan karena justru Morimiya yang paling dekat sama Yuko-chan kayak enggak setuju banget sama si pacar 😂

Yang aku suka banget dari film ini, adegan yang bikin mewek tuh enggak kerasa kayak adegan yang sengaja dibuat untuk bikin penonton nangis. Kayak mengalir aja adegannya, eh tau-tau yang nonton udah pada berlinang air mata aja 😭😭


atas: Morimiya-san dan Yuko-chan, bawah: Miitan dan Mama Rika


Lesson in Murder

Adalah suatu kesalahan milih film ini sebagai film terakhir yang ditonton di hari Sabtu dan jamnya cukup malam pula!

Film ini nyeritain sorang pembunuh berantai, Haimura Yamato (Abe Sadawo) yang udah ditetapkan hukuman mati, tapi dia minta tolong kepada seorang mahasiswa hukum, Kakei Masaya (Mizukami Koshi) untuk mengungkap kalau ada satu dari sembilan kasus yang mana bukan dia yang melakukan. Masaya dan Kakei ini saling kenal waktu Masaya masih SMP dan sering kabur ke kafe milik Yamato.

Mulai lah Masaya menyelidiki setiap pembunuhan yang dilakukan oleh Yamato. Apa saja yang dia lakukan terhadap korbannya, apa bedanya dengan satu kasus yang enggak dia akui. Asli gila siih ini orang nyiksa korbannya sadis banget dan dengan muka super ramah (yang tentu saja jadi sangat creepy).

Aku suka banget sebenernya dengan alur film ini, enggak ketebak sama sekali apa yang akan terjadi berikutnya. Kita udah mikir bakal gimana, eh kejadiannya enggak gitu wkwk malah suka sebaliknya. Film yang bikin otak jalan terus buat mikir sambil jantung jedar-jeder deg-degan sama apa yang bakal terjadi selanjutnya 😂

Tapiii ya itu tadi, si pembunuh berantai ini sangat sadis, jadi di film ini BANYAK BANGET adegan yang sangat mengganggu kenyamanan pas nonton (DAN SESUDAH NONTON JUGA). Makanya aku bilang kesalahan besar nonton ini sebagai film terakhir dan jamnya cukup malam.

Sepanjang perjalanan pulang aku jadi ngeliatin kuku tanganku terus-terusan. TAKUUUTTT 😩😩



Anime Supremacy!

Ini bukan film animasi yaa… sebenernya kemarin cukup banyak film animasi tapi entah kenapa enggak ada yang aku ambil wkwkwk.

Film ini nyeritain tentang seluk-beluk industri anime di Jepang. Menurutku cukup detail dan dikemasnya juga seru dan nyenengin gitu. Jadi enggak berasa cuma edukasi, dan enggak berasa sekedar nonton film doang gitu. Dua-duanya dapat!

Menceritakan Saito Hitomi (Yoshioka Riho) sutradara anime yang akan memulai debutnya, yang mana akan bersaing rating dengan anime buatan sutradara veteran yang jadi inspirasi si sutradara debut terjun ke dunia anime, Oji Chiharu (Nakamura Tomoya).

Terjun ke dunia anime ini maksudnya memproduksi anime yaa bukannya dia masuk ke dalam dunia anime wkwkwk.

Yang bikin seru, kita enggak cuma disuguhin cara membuat anime itu gimana. Tapi juga peran orang-orang dalam tim yang membuat anime. Nentuin color grading, pembuatan gerakan scene per scene, sampai ke masa-masa promosi si animenya. Yang mana ternyata bisa bikin sutradaranya stres karena keinginannya suka berseberangan sama produser wkwkwk.

Yang suka protes kenapa anime A dari season pertama ke season kedua lama banget jaraknya, harusnya nonton film ini sih. Jadi bisa tahu proses pembuatan anime yang berkualitas tuh enggak bisa sat set sat set sebulan jadi. Prosesnya super panjang dan enggak mudah, cenderung bikin gila sih.

Belum lagi kalau ternyata ratingnya enggak memuaskan, untuk episode berikutnya bisa-bisa kena revisi dan orang-orang di studio langsung lembur berhari-hari 😭😭

Asli, nonton ini jadi semakin menghargai orang-orang di balik industri anime. Aku berharap banget film ini bisa muncul di OTT legal, jadi banyak yang bisa nonton. Terutama fans anime yang suka protes-protes ke studio itu 😌


Selain dari tiga film yang aku sebutkan di atas, tiga lainnya yang aku tonton adalah In The Wake, Intolerance, dan Step. Dari keenam film jujur aja sih yaa enggak ada yang mengecewakan, semuanya bagus dan punya maknanya sendiri. Aku sempat ngantuk pas nonton Intolerance karena alur filmnya yang kebanyakan tenang tanpa dialog, tapi bisa jadi karena itu juga film yang pertama kutonton di Minggu pagi setelah Sabtu malemnya kurang tidur wkwkwk.

Ini keseluruhan film yang aku tonton~~ ehe ada tuyul warna kuning yang ngikut di setiap foto 🙈


Yaak, begitulaah pengalaman nonton film Jepang di bulan November yang super seruuu 😆 JFF minggu ini akan berlangsung di Bandung niih hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Yang di Bandung kalau mau nonton bisa langsung cek-cek jadwal di Instagramnya JFF yaa...

Jangan lupa baca film yang ditonton Hicha juga DI SINI yaaa 😊😊

Sampai ketemu di J-Corner berikutnyaaa~~

eya.
Read More