J-Corner Ep.11: Tentang Live Action - Opini dan Rekomendasi

Friday, December 1, 2023


Menjelang November dan sepanjang November tuh beneran luar biasa sibuk sama kerjaan kantor, jadi bahkan buat ngepost J-Corner aja aku tidak punya tenaga huhuhu maaf yaa Hicha, padahal yang habis punya baby kan Hicha πŸ₯ΊπŸ₯Ί

Buat tema kali ini, awalnya aku mau tulis sendiri karena kok kayaknya enggak enak ngajakin Hicha ngerant di postingan kolab πŸ˜‚ tapi ternyata Hicha malah menyambut karena punya concern yang sama wkwkwk πŸ’ƒ

Oh ya, postingan ini mau aku bagi ke dalam dua bagian: OPINI dan REKOMENDASI sesuai sama judulnya. Tapi mungkin bagian opini akan lebih banyak terbaca sebagai ngomel-ngomel belaka wkwkwk πŸ™‡‍♀️πŸ™‡‍♀️

Mohon maaf sebelumnya kalau isi postingan ini jadinya full ngerant wkwkwk karena memang sengaja pengin menyuarakan protes buat orang-orang yang suka komentar jelek-jelek atau menghina film/series live action, khususnya dari Jepang.

Yaa yang dari Jepang yang dibahas lah kan ini J-Corner wkwkwkwk.


OPINI

Berawal dari postingan Endah tentang film Jepang ZOM100: Bucket List of The Dead versi live action, terus kita jadi bahas di DM tentang pro-kontra (tapi kebanyakan kontra) tentang live action yang sering berseliweran di jagad Twitter dari lama 🀑

Dari situ aku kepikiran kok kayaknya aku perlu bahas soal ini karena rasanya udah gerah banget sama orang-orang yang selalu protes mengenai film-film atau series live action padahal yang mereka tahu juga judul itu-itu doang. Lelah πŸ’†‍♀️πŸ’†‍♀️

YANG PENTING KOMENTAR DULU
Nih, kebayakan netizen tuh sukanya gitu. Tiap ada berita manga/anime mau dibuat versi live action, rata-rata pada komen ngejudge duluan. Mending kalau udah ada visualnya, kadang baru berita doang udah langsung dikomen “pasti jelek” huh cenayang lu? πŸ’πŸ»‍♀️

Memang kok, live action yang jelek itu ada, dibilang banyak juga bisa-bisa aja. Tapi mbok ya, jangan ngejudge duluan di awal. Enggak mikir apa itu film/series dibuat pakai pikiran, keringat, bahkan darah. Bukan berarti manga/anime enggak dibuat pakai itu semua, tapi kalau kalian bisa respect sama manga/anime, kenapa sama live action enggak bisa? πŸ™„

Yang aku sering temuin, kebanyakan mereka tuh pasti ngomentarin visual, misal gaya rambut, make-up atau kostum. Tapi yang aku heran nih, kalau kostum dan make-upnya beda sama manga/anime, dikatain jelek lah atau enggak sesuai materi asli lah. Tapi kalau terlalu mirip sama manga/anime juga kadang ada yang ngatain “kayak lagi cosplay” jadi maunya apa ya? 😀

Terus selain itu yaa jalan cerita. Memang banyak live action yang enggak bisa mencakup sekaligus apa yang ada di manga/anime. Yang komentar nih suka enggak mikir kalau manga/anime itu animasi alias dibuat oleh manusia dengan berbagai teknologi yang ada, sementara untuk live action yaa jelas enggak bisa lah plek ketiplek banget πŸ™ƒ. Apalagi yang genrenya fantasi. Selain itu ada yang namanya durasi juga yah, bapak-bapak ibu-ibu mbak-mbak mas-mas sekalian… πŸ™‡‍♀️

Terus aku tuh jelas terganggu banget sama kata “cringe” yang suka banget disematkan orang-orang tiap membahas live action. Kayak… apa sih, kadang enggak nyambung juga yang mereka sebut cringe itu πŸ™„. Bahasan aku sama Endah juga di DM salah satunya soal cringe ini, enggak semua adegan aneh/absurd bisa disebut cringe, kenapa enggak sebut aneh/absurd aja sih? Terutama buat yang temanya fantasi kan udah jelas dunianya beda, kenapa yang kesebut duluan selalu "cringe" sih? Sebenernya pada paham artinya cringe enggak sih? 😭😭

LIVE ACTION DAN ANIME SAMA-SAMA ADAPTASI
Yang banyak orang-orang lupa (atau malah enggak tahu πŸ€”) kalau anime tuh juga banyak yang merupakan adaptasi dari materi asli, seperti manga atau novel. Dan lumayan banyak adaptasi anime pun enggak sesuai materi aslinya kok. Kadang malah part yang emosional di manga, kagak kebawa tuh pas dijadiin anime *uhukhaikyuuseason4uhuk* πŸ’†‍♀️πŸ’†‍♀️

That's why sampai sekarang aku kebanyakan jadi tim manga, kadang nengok anime cuma buat lihat bergeraknya gimana. Jangan selalu mendewakan deh, sama anime. Enggak selamanya anime itu yang terbaik dan terbagus.

Dan enggak sedikit juga live action yang adaptasi langsung dari manga/novel, bukan dari animenya. Atau malah kadang duluan ada live actionnya dibanding anime. Contohnya ZOM100 tadi, terus ada My Happy Marriage, Tokyo Revengers, film-film dari manga-manga shojo, dan yang baru-baru mau ada animenya tuh Trillion Game, live actionnya udah tamat dari musim lalu dan udah tayang juga noh di Netflix 😎.

Tapi yaaa mana ada mereka peduli πŸ’πŸ»‍♀️. Kadang pemuja anime juga pada enggak baca manganya kok πŸ’πŸ»‍♀️. Tapi kalau komentarin live action udah berasa kayak paling tahu segalanya dah πŸ’πŸ»‍♀️.

Masih lucu sih, pas ZOM100 versi live action tayang di Netflix, orang-orang pada kaget karena animenya baru jalan sekitar 5-6 episode (CMIIW) kok udah dibuat live action aja. Padahal mereka enggak tahu kalau live actionnya udah diumumin sejak lama, bahkan sebelum animenya dibuat.

Ini yang terjadi juga ke Tokyo Revengers. Syuting untuk live action udah jalan duluan daripada animenya dibuat, tapi karena sempat break karena pandemi, akhirnya animenya duluan yang tayang. Padahal film live actionnya ya mengadaptasi manga.

Enggak sabar jadinya lihat reaksi orang-orang pas anime Trillion Game ada, terus pada kaget ternyata live actionnya udah lebih lama ada πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

hehe sama netflix juga ditulisnya adaptasi dari manga bukan anime 😝

LIVE ACTION YANG DIPUJI-PUJI
Walaupun netizen kebanyakan menghujat, tapi sebenernya ada lumayan live action yang belakangan dipuji-puji sih. Contohnya kayak Rurouni Kenshin, Tokyo Revengers, Alice in Borderland, Death Note (versi film), apa lagi yak aku kok lupa wkwkwk OHH yang paling baru One Piece sih…

Tapi perlu digarisbawahi, One Piece ini walaupun pemerannya dipilih sendiri oleh mangakanya, Oda Eiichiro, tapi produksinya dipegang sama Netflix worldwide, bukan Jepang. Jadi budget pun cukup besar dibanding project-project yang hanya diproduksi oleh pihak Jepang aja. Menurutku sih, enggak bisa dibandingkan lah yaa πŸ’πŸ»‍♀️

Nah tapi yaa, menurutku live action yang dipuji-puji juga enggak selalu bagus menurut orang yang ngikutin materi asli (baca: manga), contohnya aku gamblang aja, Rurouni Kenshin.

Enggak ada yang bilang Rurouni Kenshin live action ini jelek, aku pun berpendapat film-filmnya bagus dan sukses. Tapiii sebagai pembaca manganya, aku pun punya kekecewaan sendiri 😌

Salah satu kekecewaan yang paling besar adalah karakter Kamiya Kaoru yang di live action kesannya kayak enggak berdaya banget, dikit-dikit diculik, belum apa-apa udah pingsan perlu ditolongin. Padahal Kaoru di manga itu kuat dan tekadnya tinggi. Walaupun memang ujungnya dia jadi kelemahannya Kenshin, tetep diculik dan ditawan juga, tapi bukan tanpa perlawanan apa-apa dong 😀. Sebel banget aku tuh lihat Kaoru di live action, tapi apa para pemuja anime peduli?? Tentu tidaaak wkwkwkwk πŸ™ƒπŸ™ƒ

Padahal mereka suka protes kenceng kalau cerita enggak sesuai sama materi asli, ini kok pada enggak nyadar sih, oh pada enggak merhatiin sih yaa yang penting adegan actionnya keren aja ye kan?? 😌


REKOMENDASI

Nah kan, udah panjang-panjang ngomel, baru inget harus ngasih rekomendasi live action yang bagus-bagus (menurut saya) wkwkwk πŸ™ˆπŸ™‡‍♀️

Tentunya aku enggak akan memasukkan Rurouni Kenshi atau Alice in Borderland apalagi One Piece yang belum aku tonton ke daftar rekomendasi yaa… Udah banyak yang bahas soalnya wkwkwk.

So, ini rekomendasi live action yang bagus (MENURUT SAYA):

Kingdom
Menceritakan Shin (Yamazaki Kento) seorang budak yatim piatu yang bercita-cita menjadi jenderal perang saat dewasa, yang mana takdirnya malah menyeret dia ketemu Eisei (Yoshizawa Ryo), seorang raja yang ingin merebut kembali tahtanya.

Kingdom ada tiga film dan dua filmnya sudah tersedia di Netflix lho 😊 Aku baca manganya memang belum sampai banyak sih, tapi film live action ini menurutku sangat sangat bagus. Dari segi ceritanya, pengenalan sampai pendalaman dan development para karakternya tuh bagus. Apalagi setting jaman kerajaan, dengan banyak adegan perang yang menurutku epic banget!

Oh, sutradara ketiga film Kingdom ini juga yang menyutradarai Alice in Borderland btw. Kalau udah nonton Alice in Borderland, mungkin akan kebayang gimana tension di film-film Kingdom πŸ€”. Dan kalau aku enggak salah, animenya pun ada di Netflix, jadi bisa tuh kalau mau sekalian bandingin 😌.


Trillion Game
Haru (Meguro Ren) dan Gaku (Sano Hayato) dulunya teman SMP yang kembali bertemu saat wawancara kerja di perusahaan IT terbesar di Jepang, Dragon Bank. Haru diterima tapi Gaku gagal, tapi yang terjadi malah Haru menolak tawaran kerja di Dragon Bank dan justru mengajak Gaku bergabung membuat bisnis baru dengan goal 1 triliun dollar.

Seru banget ngikutin kegilaan Haru menyeret-nyeret Gaku demi mencapai goals mereka πŸ‘πŸ‘. Dari sini aku jadi banyak tahu serba-serbi perusahaan/bisnis seputar e-commerce, stasiun TV, developer game, e-money dan lain lain, dan lain-lain.

Walaupun dramanya bercerita tentang bisnis, tapi dikemasnya enggak terlalu serius sampai bikin eneg mikir kok. Kadang dibuat deg-degan karena Haru yang gampang banget mengeluarkan kebohongan-kebohongan dari mulutnya demi mencapai goals, the real cogil πŸ˜‚πŸ˜‚. Kadang stres sendiri waktu Haru dan Gaku udah selangkah lebih maju, eh ada aja yang dilakukan Dragon Bank demi menghancurkan mereka 😭

Aku belum baca komiknya sih, tapi kata temenku komiknya pun bagus. Dan menurutku drama live actionnya juga bagus! Produksi dan akting para pemerannya beneran top semua πŸ‘πŸ‘


From Me To You
Tentang cewek awkward bernama Kuronuma Sawako (Minami Sara) yang dijulukin Sadako dari film horror Ring oleh teman-teman sekolahnya karena rambutnya yang panjang. Di sekolah juga beredar gosip kalau ditatap Sawako, bisa kena sial. Sawako sering sendirian dan enggak punya teman dekat, satu-satunya yang baik dan selalu senyum ke dia cuma Kazehaya Shota (Suzuka Ouji).

From Me To You atau Kimi ni Todoke dulu pernah diadaptasi sebagai film, diperankan oleh almarhum Miura Haruma dan Tabe Mikako. Waktu berita series terbarunya ini muncul, banyak banget yang langsung ngejudge dan enggak rela kalau film yang dulu digantikan dengan drama ini. Padahal kan drama ini dibuat bukan buat menggantikan film yang sudah ada πŸ™„πŸ™„

Dulu aku suka banget sama filmnya, tapi bukan berarti aku jadi enggak suka sama versi baru ini. Justru aku termasuk yang excited pas tahu salah satu manga favoritku kembali diadaptasi dan jadi drama πŸ₯ΊπŸ₯Ί. Karena jujur, walau filmnya bagus tapi namanya film kan durasinya mentok di 1,5-2 jam aja, enggak mungkin bisa mencakup banyak cerita wholesome yang ada di manga.

Versi dramanya, menurutku sangat bagus karena berhasil mencakup lebih banyak cerita dan karakter-karakter pendukung lebih banyak kebagian peran juga πŸ™‡‍♀️. Ini juga ada di Netflix, beserta animenya juga, ditonton dua-duanya, sangat rekomen! πŸ’•


Tokyo Tarareba Girls
Menceritakan tiga sahabat, Rinko (Yoshitaka Yuriko), Kaori (Eikura Nana) dan Koyuki (Oshima Yuko) di umur 30an yang masih struggling dengan cinta dan karir masing-masing. Ketiga perempuan ini merasa mereka udah kurang cantik dan menarik dibanding perempuan-perempuan yang lebih muda dari mereka, baik dalam hal karir maupun cinta.

Cerita yang sangat relate buat kita-kita yang udah mencapai kepala tiga. Gimana rasanya dikalahkan sama yang lebih muda dalam hal pekerjaan, padahal udah berusaha semaksimal mungkin. Dianggap ide-idenya udah terlalu basi karena umurnya udah enggak muda lagi itu nyakitin sih emang. Menyesali keputusan yang diambil di masa lalu... Tapi Rinko, Kaoru dan Koyuki tetap berusaha untuk enggak menyerah, walaupun kadang pakai nangis-nangis, pakai berantem, pakai sakit hati dulu 😭😭.

Drama ini dikemasnya dalam bentuk komedi, jadi banyak ketawa-ketawanya walaupun enggak jarang ikut menghela nafas dan sedih lihat struggling ketiga perempuan ini saking relatenya πŸ˜‚πŸ˜­. Aku belum pernah baca manganya sih, tapi dramanya dikemas dengan sangat asik menurutku. Ini juga ada di Netflix, bisa langsung ditonton πŸ’ƒ.


Don't Call It Mystery
Menceritakan Kunou Totono (Suda Masaki), seorang mahasiswa biasa berambut kribo yang sering secara enggak sengaja terlibat kasus yang terjadi di sekitarnya. Bukan cuma jadi saksi, enggak jarang Totono dimintai tolong oleh duo detektif Ikemoto (Onoe Matsuya) dan Furomitsu (Ito Sairi) untuk menganalisis kasus yang dihadapi.

Totono padahal bukan mahasiswa hukum, dia cuma suka baca dan pintar analisis orang, dan suangat bawel. Ngomong teruuuss tapi giliran ketemu sama bapak-bapak bawel yang suka cerita, dia capek sendiri 😭.

Don't Call It Mystery menurutku enggak seperti kebanyakan drama kriminal atau suspense yang ada. Buat beberapa orang mungkin membosankan tapi menurutku cerita-cerita yang ada di drama ini tuh wholesome banget πŸ₯Ί. Aku suka banget kalau Totono udah kenal ngobrolin tentang kehidupan sama orang-orang yang dia temuin.

Manganya pun kabarnya populer di Jepang sana. Aku belum ada kesempatan buat baca sih, tapi menurut orang-orang yang baca manga dan nonton dramanya tuh sama-sama bagus. Walau wujud Totono di drama dan di manga kelihatan cukup berbeda (lebih cute versi drama wwkwk), tapi tetap kerasa itu tuh memang Totono gitu πŸ₯Ί.

Don't Call It Mystery secara mengejutkan ada di Vidio. Kalau aku enggak salah, bisa ditonton free sampai episode empat, selebihnya harus berlangganan πŸ™‡‍♀️.



Dari lima live action film dan drama yang aku rekomendasiin barusan, tiga diantaranya (From Me To You, Tokyo Tarareba Girls, dan Don't Call It Mystery) diadaptasi dari manga shoujo dan jousei, yaitu manga yang target marketnya perempuan remaja dan dewasa.

Satu lagi pendapatku nih, film dan drama live action yang diadaptasi dari manga-manga shoujo dan jousei BIASANYA lebih bagus dibanding film dan drama live action yang diadaptasi dari manga-manga shonen atau seinen, yaitu manga yang target marketnya laki-laki remaja dan dewasa. Ini pendapatku pribadi aja sih sebagai penonton drama dan film-film Jepang yang banyak diadaptasi dari manga 😌.

Mungkin karena yang lebih terkenal biasanya memang manga/anime dari shonen dan seinen yaa, jadinya yang berekspektasi tuh banyak dan jadinya banyak diributin juga sama para penonton animenya. Sementara mereka yang suka shonen dan seinen ini biasanya jarang mau menyentuh ranah shoujo dan jousei, entahlah yaa mungkin kurang lakik dianggapnya 😌😌.

Sebenernya masih banyak sih, film-film atau drama live action dari manga shoujo dan josei yang bagus, cuma yaa tidak tersedia di platform legal sih jadi aku pilihin yang gampang aja diaksesnya πŸ™.

Sudah deh, segitu saja cuap-cuapnya kali ini, udah kepanjangan mana isinya banyak ngomel wkwkwk. Jangan lupaaa baca juga bahasan Hicha soal live action >> DI SINI πŸ’ƒπŸ’ƒ

Mohon dimaafkan kalau kata-kataku banyak enggak berkenannya yaa πŸ™‡‍♀️ dan kalau terkesan menggurui atau gimana, cuma pengin berbagi keluh kesah aja πŸ™‡‍♀️πŸ™‡‍♀️

Sampai ketemu di postingan selanjutnyaaa~ πŸ’ƒ~

eya.

8 comments

  1. Yaampuun sama banget, Eya! Aku juga bingung maunya yang protes itu apa, dah... dikasi mirip sama originalnya dikatain kayak cosplay, dibikin lebih realistis, tetap aja dikatain. Ckckck.

    Apalagi yg sampai ngatain pemainnya, padahal mereka kan cuma ngikutin bagian produksi doang kan, ya... Terus sampe jadi ada yg (rumornya) suicide gara-gara ga tahan dibully gegara LA kayak Miura Haruma. Netijen yg ketikannya jahat gitu, apa ga nyesel, ya? Huhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang mereka maunya ngatain aja sih, kurang kerjaan hadeeh... Tapi yah melihat banyak yang masih menghujat LA AoT (yang mana kayaknya banyak yang udah lupa juga LA ini ada) mereka banyakan pada ga tau imbasnya kayak gimana deh... lagi-lagi yang tau dan ngeh cuma fans aja :((

      Delete
  2. pukpuk Kak Eyaaa 😭 udah begah banget lihat opini orang-orang macam ini ya, Kak 😭. aku aja bacanya gregetan, jadi mereka maunya apa, kok jadi serba salah bikin LA 😭

    ini tuh kejadiannya mirip sama film adaptasi novel ya, tapi kayaknya LA citranya lebih buruk, padahal nggak bisa disamaratakan semuanya. kalau boleh jujur, aku lebih suka LA yang pakai costum dan hairstyle yang mirip dengan manganya, tapi bukan berarti yang nggak mirip tuh jelek, cuma kayak kurang greget kalau beda wkwk. di satu sisi aku sadar perbedaan terjadi pasti karena ada faktor-faktor di balik layar, kan nggak semua bisa sama plek ketiplek πŸ˜‚. demikian juga dengan jalan cerita, kadang film dibuat lebih dramatisir karena memang beda sensasi nonton film dengan baca manga/buku. orang-orang tuh harusnya sadar sih kalau semua hal nggak bisa main dipuku rata πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begah banget Lii T__T

      Adaptasi novel sebenernya disebutnya sama sih, LA juga kalau dibikinnya dengan orang beneran berakting yaa.. cuma kayaknya karena novel kan sejak awal pembaca juga berfantasi jadi kayaknya orang banyak yang lebih mudah terima dibanding dari manga/anime..

      Ih setuju Lii, jalan cerita kalau di film/drama pasti dibikin lebih dramatisir karena sensasinya pasti beda sama kalau baca buku/manga.. dan orang-orang tuh pada ga nyadar disitu siiih (dan ga mau nyadar kayaknya) :((

      Delete
  3. Yang protes netyjen bukan blogger kan mbaa? Aku sendiri asal bagus manga atau anime suka-suka aja. Live action...jarang nonton. Palingan One Piece. Butuh info yg dr Jepang asli. Trmksh rekomennya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. blogger ga termasuk netizen kah mba? wkwkwkk :))

      Delete
  4. Hahahahaha senyum-senyum sendiri baca tulisannya Kak Eya yang iniii. Postingan ini harus dibaca sebanyak mungkin orang-orang yang suka repot kalau dikasih live action sih. Biar tau gitu ada sisi lain dari manga, anime, dan live action biar nggak ribut mulu tiap ada live action ya Allah hamba lelah padahal masih baru nyemplung di jejepangan. xD

    Oooh Tokyo Tarareba Girls itu ceritanya tentang itu. Okeoke masuk ke watch list. Untuk Trillion Game, wah...gila sih suka banget aku Kaaak sama drama ituuuu. T_____T Ini rencana nulis tentang Trillion Game sama One Piece udah ada nih, tinggal eksekusinya aja yang gatau kapan. As always... xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. WKWKWKWK kan kasihan nih yang baru nyemplung langsung capek :))) iya dah abisnya kalau ada yang nanya live action terbaik juga jawabannya pada yang dari shonen manga semuaa, padahal banyak yang dari shojo manga ><

      Ditonton deeh Endah Tokyo Tarareba Girls, baguuss cocok buat mbak-mbak 30an ke atas wkwkwk... Aku tungguin (dan bantu nagih deh) postingan Trillion Game-nya Endah wkwkwkk

      Delete