Monday, March 28, 2016

Book Review: A Monster Calls by Patrick Ness

Pengarang: Patrick Ness | Berdasarkan Ide: Siobhan Dowd | Ilustrasi: Jim Kay
Penerjemah: Nadya Andwiani
 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Rating: 5/5

Sang Monster Muncul Persis Lewat Tengah Malam.
Seperti Monster-Monster Lain.

Tetapi, dia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Conor.
Conor mengira sang monster seperti dalam mimpi buruknya,
yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum
mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama
selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan...
Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan
hal yang paling berbahaya dari Conor.

Dia Menginginkan Kebenaran.
***

Cerita dimulai saat Conor mulai didatangi monster jelmaan pohon yew setiap pukul 00:07. Kedatangannya seperti mimpi buruk tapi meninggalkan jejak-jejak yang membuat Conor bingung, apakah monster itu hanya mimpi atau nyata. Anehnya, Conor sama sekali tidak merasa takut pada monster besar itu. Sang monster menceritakan tiga kisah yang tidak pernah berakhir bahagia. Kisah-kisahnya selalu berpengaruh pada kehidupan Conor setelahnya. Dan Sang Monster menuntut Conor menceritakan kisahnya sendiri yang akan menjadi kisah keempat. Conor selalu mengelak karena dia merasa tidak punya kisah untuk diceritakan.
 
"Kisah adalah sesuatu yang paling liar, derum sang monster. Kisah itu mengejar, menggigit, dan memburu." —halaman 45
 
Salah satu buku terbaik yang aku baca tahun ini. Nuansa kelam yang dibawa buku ini bener-bener kerasa selama aku baca, which is malah bikin aku nggak mau berhenti membalik halaman ke halaman berikutnya. Ceritanya sederhana memang, tapi makna di dalamnya bener-bener luar biasa. Conor, walaupun baru berumur tiga belas tahun, tapi emosinya yang tergambar jelas berhasil menarik simpatiku. Aku merasa bisa relate ke Conor. Merasakan ketakutan dan kesedihannya menerima kenyataan bahwa keadaan Mum terus memburuk dari hari ke hari. Gimana bencinya Conor harus tinggal bersama Grandma yang sangat teratur. Atau menghadapi kenyataan bahwa ayahnya sudah punya keluarga lain yang harus lebih diperhatikan di belahan dunia sana. Hubungan Conor dengan teman-temannya di sekolah pun tidak berjalan dengan baik. Dia mengacuhkan Lily, satu dari sedikit temannya karena menurutnya gara-gara Lily lah semua orang tahu keadaan Mum. Belum lagi gangguan-gangguan yang diterimanya dari Harry dan kawan-kawannya. Perlakuan khusus dari para guru pun semakin membuatnya tidak nyaman.
 
"Aku minta maaf karena memberitahu semua orang soal ibumu, kata baris pertama.
Aku kangen menjadi temanmu, kata yang kedua.
Kau baik-baik saja? kata baris ketiga.
Aku melihatmu, ungkap baris keempat, dengan kata Aku digarisbawahi sekitar seratus kali."
—Lily, halaman 172
 
Awalnya aku nggak kepikiran ceritanya bakal ke arah sini. Malah aku sempat mikir kalau monsternya itu sejenis monster danau Loch Ness mentang-mentang nama penulisnya Patrick Ness terus dia bawa Conor berpetualang kemana gitu haha. Aku nggak nyangka kalau buku tipis yang dilengkapi ilustrasi-ilustari keren hasil karya Jim Kay ini bakal bikin aku nggak bisa move on untuk beberapa waktu. Dan aku melarikan diri ke kamar mandi waktu buku ini mendekati halaman terakhir. Karena aku yakin banget kalau aku bakal nangis. Bisa diledek orang-orang sekantor kalau nangis di ruangan, cuma gara-gara sebuah buku. Of course ini bukan “cuma sebuah buku” buat aku.

Oh ya tadi aku sempat nyinggung soal ilustrasi kerennya Jim Kay. Yup, setiap halaman buku ini dilengkapi hasil karyanya Jim Kay yang super keren! Buat yang belum tahu, Jim Kay ini juga ilustrator buat Harry Potter And The Sorcerer's Stone Illustrated Edition. Tapi ilustrasinya disini sama di Harry Potter yang belum berhasil kumiliki hiks beda banget. Karakternya disini kerasa lebih dark, gloomy, dan buat anak-anak mungkin agak terlalu seram yah. Tapi karyanya di A Monster Calls ini dan di Harry Potter, aku sama-sama suka! Ini beberapa favoritku.



 
Jangan kebanyakan nanti jadinya spoiler hehehe. Pokoknya ini buku recommended banget deh, buat kalian yang suka cerita-cerita fantasi, atau cerita-cerita tentang monster. Atau yang suka cerita tentang cinta-kasih ibu dan anak juga boleh banget baca buku ini.

"Kau hanya ingin agar penderitaan itu berakhir, kata sang monster. Penderitaanmu sendiri. Kau ingin mengakhiri apa yang mengisolasi dirimu. Itu keinginan yang sangat manusiawi."
—halaman 200
 
Oh ya hampir kelupaan! A Monster Calls ini bakal muncul di layar lebar bulan Oktober nanti. Liam Neeson bakal jadi si monster pohon yew, Felicity Jones sebagai Mum, dan Conor sendiri akan diperankan oleh Lewis MacDougall. Kalau lihat trailernya sih, keren banget! Nggak sabar pengin cepet-cepet nonton :D


Love,
Eya

2 comments:

  1. nyesek banget baca buku ini, hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. bangeet... dan efeknya lumayan lama baru bisa move on dari buku ini :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...