Tuesday, December 29, 2015

Book Review: Last Forever by Windry Ramadhina

Pengarang: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2015
Rating: 4/5

Bercerita tentang Lana Lituhayu Hart dan Samuel Hardi. Lana tinggal di Washington, bekerja sebagai produser film dokumenter di National Geographic. Sangat mencintai pekerjaannya yang sudah mensponsorinya jalan-jalan ke berbagai daerah keren di seluruh dunia. Sementara Samuel tinggal di Jakarta, juga merupakan orang yang jenius dalam film dokumenter. Sudah mempunyai rumah produksi film dokumenter sendiri.

Bukan, mereka bukan pasangan kekasih. Mereka tidak saling terikat karena keduanya sama-sama tidak menyukai komitmen. Hubungan yang mereka jalani selama bertahun-tahun dengan jarak tempuh Jakarta—Washington hanya sebatas hubungan fisik. Hingga akhirnya sesuatu yang sama sekali tidak pernah mereka duga datang menghampiri. Mau tidak mau hubungan mereka tidak bisa lagi sama seperti biasanya.

“Dalam hubungan lelaki dan perempuan, memang harus ada yang dikorbankan. Itu yang membuat hubungan berhasil. Itu yang menjadikan hubungan berharga.”


*nangis bentar karena belum juga bisa nulis sinopsis dengan baik dan benar*

Ah, ini buku ke... delapannya Mbak Windry Ramadhina yah, kalau nggak salah? Semua bukunya Mbak Windry udah aku baca, kecuali Metropolis yang udah susah banget nyarinya. Eniwei, dapet yang edisi tanda tangan yeaay!


Seperti biasa, tulisan Mbak Windry selalu indah. Walaupun sebenernya di bagian awal aku kurang bisa enjoy bacanya. Mungkin karena aku kurang simpati sama kedua tokoh utama, Lana dan Samuel. Beda sama pas baca London atau Memori dimana aku langsung suka sama Gilang, Mahoni dan Simon, bahkan Sigi. Atau Montase yang berhubungan dengan novel ini, aku juga langsung suka sama karakter-karakternya. 

Jadi, Lana dan Samuel ini sama-sama nggak mau berkomitmen karena menurut mereka komitmen itu akan menghancurkan mimpi-mimpi mereka. Keduanya sama-sama nggak mau kalah kalau soal ambisi. Duuh gue yang belum kepikiran buat berkomitmen juga gagal paham sama alasan mereka membenci komitmen. Apa nggak bisa yah, mereka bekerjasama aja buat mewujudkan cita-cita mereka? Memang harus ada yang berkorban sih, tapi itulah hidup kan? Selalu ada pengorbanan kalau mau meraih sesuatu. Tsaaah. 

Diantara Lana dan Samuel, aku paling nggak bisa simpati sama Lana. Bahkan sampai cerita nyaris tamat pun keras kepalanya masih mendominasi. Aku ngerti sih, dia trauma sama komitmen karena pengalaman ibunya. Tapi toh ibunya juga kan nggak merasa pernikahannya sebagai masalah. Apalagi pas papanya yang orang Amerika itu ke Jakarta, kok bisa sih Lana segitunya sama papa sendiri? Untungnya sifat Samuel nggak sekeras Lana. Setelah kejadian di Flores yang sempet bikin aku deg-degan, aku pelan-pelan mulai simpati sama Samuel. Bahkan si bos yang kejam itu aja bisa terketuk pintu hatinya.

Yang paling aku suka di novel ini adalah Rayyi, si Anak Kecil bawahannya Samuel yang suka nyeletuk nggak tau tempat itu. Dari Montase aku memang udah suka sama Rayyi sih. Dan disini karakter dia-lah yang kadang jadi penyegar di tengah suramnya pemikiran-pemikiran anti komitmen Samuel dan Lana. Ah ya, selain Rayyi, aku juga suka sama Patrick atau dipanggilnya Pat, kamerawan Lana di Nat Geo. Dia ini family man banget, suka nasehatin Lana tentang antikomitmennya yang memang susah banget dicerna orang lain. Lucu deh tiap kali Samuel cemburu sama Pat, padahal Pat ini udah punya tunangan di Washington. 

Oh iya, aku juga suka banget dengan segala tentang film dokumenter yang melatar belakangi novel ini. Bedanya sama Montase yang juga berlatar film dokumenter, mungkin disini lebih di dunia kerjanya yah. Aku suka bayangin orang-orang berlalu-lalang bawa-bawa kamera, syuting di daerah-daerah terpencil, mendokumentasikan upacara adat. Paling suka pas nyeritain upacara adat mate ngana di Bena, Flores. Nambah pengetahuan baru :D 

Mengesampingkan ke-kurang-simpati-an aku ke tokoh utamanya, aku puas dan suka sama cerita dari Last Forever itu sendiri. Bukan Mbak Windry namanya kalau nggak sukses bikin pembacanya puas. Aku suka bagaimana cerita diakhiri dengan manis (yah, spoiler deh). Aku suka perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri dan pemikiran Samuel. Dari nggak simpati sama sekali ke si Kakek ini (ngikutin cara Rayyi), sampai ikutan sedih waktu dia patah hati ditolak Lana di suatu adegan. Ternyata orang sekeras apapun masih bisa berubah ya? Dan aku suka bagaimana Rayyi dan Pat mampu membawa suasana jadi lebih segar. 

Buku ini cocok banget buat orang-orang yang mungkin terlalu mencintai pekerjaannya kayak Samuel dan Lana. Atau buat yang masih takut berkomitmen. Atau kalau kata temenku, yang belum terlalu mikiran komitmen kayak sayah :p Anti sama belum terlalu mikirin beda yaa haha. Pokoknya novel terbaru Mbak Windry selalu ditunggu.

Love,
Eya

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...